Life

Tahun pertama di rumah sendiri

Di kantor aku dulu (sekarang uda resign sejak punya bayi) 2x dalam sebulan selalu diadakan Persekutuan Doa. Happy ya kerja di kantor aku, ada refreshing mind and soul pas jam kerja, soalnya bisa nyanyi2 puji dan sembah Tuhan, juga denger kotbah. Pendeta yg diundang juga gonta ganti, jadi pengetahuannya makin banyak. 

Nah sekitar April 2014 Pendeta yang diundang adalah Ibu Evangelist Valentina (sekarang udah ibu Pendeta kali ya? Kita biasa panggil Ce Valen). Pas sesi terakhir sebelum doa berkat, Ce Valen bagi2 doa buat yang membutuhkan, random gitu, ga pake dipanggil maju kok. Aku inget banget Ce Valen ada bilang salah satu doa begini: 

saya lihat ada yang sedang bingung tapi tenang aja,

Rumah, biaya nikah, dan kehidupan setelah itu Tuhan yang atur.

Dalam hati aku, jreng, kok pas banget ini doanya, kayaknya ini doanya buat aku deh, aku aminin kenceng2. Hahahaha. 
Dari pacaran dulu aku sama suami suka ngobrol2 tentang masa depan, dan salah satu topik bahasan itu yaitu harus punya rumah sendiri pas udah nikah. Tapi ya secara waktu itu kan masih pacaran, ya kita jalanin aja, tapi ga pernah bahas lagi yg serius gitu.  

Setelah engaged Maret 2014 kita pas weekend suka jalan2 cari2 rumah, dan banyak failed-nya, either kemahalan atau rumahnya ga cocok sama kita. Akirnya capek cari terus kita diemin aja.

Dari doa Ce Valen itu aku share ke suami dan kita sama2 doain terus, jadi pas doa, kata2: rumah, biaya nikah, dan kehidupan setelah itu Tuhan yang atur, kita perkatakan terus menerus. 

Singkat cerita, puji Tuhan Juni 2014, mama sama nainai-nya suami jalan2, dan kok lihat ada rumah dijual, harganya masuk budget kita. Langsung ngobrol ke kita, trus kita lihat rumahnya, and the next thing is: we bought our own house! Tentunya hanya karena kasih karunia Tuhan dan bantuan beberapa pihak (dan tentunya bank yang setujuin KPR nya heheheh). 

Rumah ini is not a fancy big house tapi pas pertama nengok ke sini kita rasa rumah ini adem. Perlu banyak renovasi sana sini, dan struggle sama kontraktor yang agak kurang cocok sama kita, sampai kita benci sama rumah ini, terus kita diemin setahunan, hingga akirnya abis merit (Oktober 2015) kudu nebeng di rumah mertua, sampai cari kontraktor lain lagi, dan baru Maret 2016 kita resmi pindah ke sini. Fiuhhh panjang ya perjalanannya. Again, hanya kasih karunia Tuhan. 

Terima kasih Tuhan buat tahun pertama di rumah ini, biarkan kami selalu ingat You are the core of our life, hanya karenaMu kami bisa. 

Semoga berkat, damai sejahtera dan sukacita selalu ada dalam rumah ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s